Jaén merupakan nama kota di Spanyol. Letaknya di bagian tengah. Tepatnya di Wilayah Otonomi Andalusia, Provinsi Jaén, Spanyol. Pada tahun 2005, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 117.500 jiwa dan memiliki luas wilayah 422 km². Dengan kepadatan penduduk 274 jiwa/km².
2007年12月29日土曜日
2007年12月28日金曜日
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifisasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Kabupaten Waropen adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Botawa. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 16.723 km dan berpenduduk sebanyak 22.234 jiwa (2000).
Waropen merupakan pemekaran dari kabupaten Yapen Waropen pada tahun 2003, dengan pusat pemerintahan sebelumnya di Serui, Pulau Yapen.
Perekonomian kabupaten baru ini lebih bertumpu pada rerimbunan hutan dengan hasil produksi kayu. Saat ini tak kurang dari 9.500 hektar hutan di atas bumi Waropen, sebanding dengan 57 persen wilayah kabupaten ini. Dari angka itu, lebih dari separuh hutan yang berada di pesisir Selat Saireri berstatus hutan produksi dengan potensi kayu yang cukup besar.
Sampai tahun 2002, berbagai komoditas dari hutan memacu sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi. Kayu bulat hingga hasil hutan bukan kayu, seperti damar, rotan, kulit mahoni, gaharu, dan nipah, menjadi komponen utama dalam sumbangan pertanian, 56,79 persen terhadap kegiatan ekonomi. Apabila perhitungan kegiatan ekonomi Waropen tahun 2003 telah selesai, persentase yang dihasilkan akan berubah, mengingat sektor kehutanan mengalami perubahan kondisi.
Daratan yang masih tertutup hutan lebat, ditambah morfologi perbukitan, menyebabkan sebagian besar desa sulit dijangkau. Jalan aspal hanya tersedia di sekitar pusat pemerintahan di Botawa. Jalan-jalan ke daerah lain, terutama di tenggara yang berbatasan dengan Kabupaten Puncak Jaya, kondisinya buruk. Suku-suku terasing yang biasa hidup berpindah- pindah masih banyak dijumpai jauh di dalam hutan. Suku-suku yang populasinya relatif besar, antara lain, adalah suku Baudi di Kecamatan Waropen Atas serta suku Demisa dan suku Wairate di Kecamatan Waropen Bawah.
Karena keterbatasan prasarana jalan raya, sampai saat ini masih digunakan transportasi air untuk mencapai Kecamatan Waropen Atas ataupun Masirei. Melewati Selat Saireri terlebih dahulu kemudian masuk melalui Sungai Membramo untuk sampai ke Kecamatan Waropen Atas, ataupun melalui sungai- sungai kecil menuju Kecamatan Masirei.
Sulitnya transportasi inilah yang juga menghambat perdagangan hasil bumi penduduk transmigran. Keluarga-keluarga yang bermukim di dekat Botawa, Kecamatan Waropen Bawah, harus membawa hasil panen ke pelabuhan di kecamatan yang sama, lalu menumpang kapal bermesin 60-80 PK selama tiga jam untuk sampai ke Pulau Yapen. Barang dagangan dipasarkan di Serui.
Kebutuhan pokok, seperti beras yang didatangkan dari Pulau Jawa dan Sulawesi, harus melewati Serui, baru dikapalkan lagi melintasi Selat Saireri ke daratan Waropen. Tak heran, harga berbagai komoditas di kabupaten ini lebih mahal dibanding di Serui. Bila harga beras jenis bagus di ibu kota Kabupaten Yapen Waropen Rp 4.000-Rp 6.000 per kilogram, di Waropen harganya Rp 6.000 hingga Rp 8.000 untuk jenis yang sama.
Beras memang harus didatangkan dari luar Papua. Maklum, padi tak banyak dibudidayakan penduduk. Tanaman yang tak banyak memerlukan air justru lebih populer, mengingat ketiadaan pengairan intensif. Ubi kayu, ubi jalar, dan tanaman palawija lebih diminati di daerah pinggir Selat Seruri ini. Kacang merah merupakan salah satu komoditas terbesar yang dihasilkan petani. Produksi kacang merah lebih banyak untuk konsumsi sehari-hari penduduk lokal.
Lahan persawahan teknis tidak ada. Padahal, dari segi pengairan, peluang pengembangan persawahan cukup besar. Kehadiran Sungai Membramo dan Sungai Wapoga bisa menjadi sumber irigasi. Padi ladang yang ditanam penduduk hanya 21 hektar dengan produksi 53 ton pada tahun 2003. Memang, padi bukan satu-satunya sumber karbohidrat bagi penduduk. Masih ada sagu, ubi kayu, dan ubi jalar.
Apabila dilihat dari luas wilayah serta jenis tanah, Waropen berpotensi mengembangkan tanaman perkebunan. Menurut catatan pemerintah kabupaten induk, masih ada lahan potensial 196.000 hektar. Namun, areal yang diusahakan untuk menanam komoditas, seperti kelapa, kakao, kopi, kelapa sawit, lada, dan vanili sebesar 1.317 hektar. Angka itu kurang dari satu persen lahan potensial.
Tanaman perkebunan yang saat ini banyak dibudidayakan penduduk adalah kakao. Areal penanamannya mencapai 800 hektar dengan produksi 200 ton per tahun. Pemeliharaan kakao ini diusahakan oleh sekitar 1.400 petani. Daerah pemasaran telah berkembang, tidak hanya wilayah Waropen dan Kabupaten Yapen Waropen, tetapi telah mencapai Surabaya dan Makassar di Sulawesi Selatan.
Komoditas lain yang juga diminati penduduk adalah kelapa. Terdapat lebih dari 2.000 keluarga yang memiliki kebun kelapa. Sayangnya, produksi kelapa belum mengalahkan produksi kakao. Perdagangannya pun hanya di Waropen dan Pulau Yapen.
Alternatif menanam kopi, lada, dan cengkeh telah dicoba penduduk untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Namun, produksinya masih di bawah satu ton setahun. Tanaman vanili pun mulai dilirik petani untuk dikembangkan. Tahun 2003, ditanam 10 hektar vanili oleh 99 keluarga.
Dengan kondisi yang serba terbatas, tugas Pemerintah Kabupaten Waropen di masa depan sangat menantang. Apalagi alat-alat komunikasi, seperti telepon, jarang ditemui di kabupaten ini di samping sulitnya transportasi. Tak heran, berbagai dinas dan instansi pemerintah di Waropen sulit dihubungi.
Peluang menggarap sektor perikanan di laut di depan mata. Tak kurang dari 2.000 rumah tangga nelayan tersebar di tiga kecamatan yang menggantungkan sumber nafkah di laut. Sampai saat ini, alat tangkap mereka masih sederhana dan hasilnya umumnya hanya untuk konsumsi rumah tangga atau pasar lokal. Suatu saat nanti, bila alat tangkap dan perahu nelayan dapat dimutakhirkan, bukan tak mungkin nelayan memperoleh hasil lebih banyak.
Kabupaten Waropen, Papua
Distrik: Masirei | Waropen Bawah
Kabupaten: Asmat | Biak Numfor | Boven Digoel | Jayapura | Jayawijaya | Keerom | Mappi | Merauke | Mimika | Nabire | Paniai | Pegunungan Bintang | Puncak Jaya | Sarmi | Supiori | Tolikara | Waropen | Yahukimo | Yapen Waropen | Mamberamo Raya
Lihat pula: Daftar kabupaten dan kota di Indonesia
2007年12月27日木曜日
Hildesheim adalah sebuah kabupaten (Landkreis) di Niedersachsen, Jerman.
Landkreis: Ammerland | Aurich | Bentheim | Celle | Cloppenburg | Cuxhaven | Diepholz | Emsland | Friesland | Gifhorn | Goslar | Göttingen | Hameln-Pyrmont | Hannover | Harburg | Helmstedt | Hildesheim | Holzminden | Leer | Lüchow-Dannenberg | Lüneburg | Nienburg | Northeim | Oldenburg | Osnabrück | Osterholz | Osterode | Peine | Rotenburg | Schaumburg | Soltau-Fallingbostel | Stade | Uelzen | Vechta | Verden | Wesermarsch | Wittmund | Wolfenbüttel
2007年12月26日水曜日
Raden Siti Hatijah (lebih dikenal dengan nama Tati Saleh; Jakarta, 24 Juli 1944–Bandung, 9 Februari 2006) adalah seorang penari jaipongan asal Indonesia.
Ayahnya, Abdullah Saleh, adalah seorang seniman yang juga berprofesi sebagai Kepala Kebudayaan Ciamis, sedangkan ibunya adalah pengajar seni tari dan tembang. Selain ayahnya, Tati Saleh mempelajari seni tari dari R. Enoch Atmadibrata, Ono Lesmana, serta tokoh tari Sunda, R. Cece Somantri.
Di Konservatori Karawitan (Kokar), ia dan beberapa rekannya menggubah beberapa Seni Ibing Jaipongan seperti Lindeuk Japati, Rineka Sari, Mega Sutra. Pada tahun 1960-an, ia juga, bersama Indrawati Lukman, Irawati Durban, Tien Sapartinah dan Bulantrisna Jelantik, dikenal sebagai penari istana.
Saleh meninggal dunia pada 9 Februari 2006 akibat komplikasi luka lambung, vertigo dan diabetes. Ia meninggalkan suaminya, Maman Sulaeman dan tiga orang anak.
2007年12月21日金曜日
Mochamad Slamet Hidayat (lahir 28 September 1953 di Purbalingga, Jawa Tengah) adalah Duta Besar Indonesia untuk Singapura sejak tanggal 12 Juni 2003 sampai dengan Februari 2006. Sebelumnya, beliau banyak ditugaskan di Persatuan Bangsa-bangsa, dan terakhir menjabat sebagai Duta Besar di Deputy Permanent Representative, Permanent Mission of Indonesia to the United Nations, New York, Amerika Serikat (2001-2003).
Selama masa jabatannya di Singapura, Slamet dikenal sebagai seorang diplomat yang merakyat. Ia memberi perhatian khusus terhadap permasalahan dan kesejahteraan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Singapura, termasuk memperjuangkan peningkatan pendapatan dan menginisiasi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat sekaligus menghibur bagi mereka. Selain itu, Slamet juga dianggap berhasil memimpin perubahan wajah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura kepada masyarakat Indonesia di Singapura, para pelajar dan mahasiswa khususnya, untuk menjadi 'rumah kedua' bagi mereka.
2007年12月20日木曜日
登録:
投稿 (Atom)